Kisah sebelumnya :
kami memutuskan untuk mencoba peruntungan untuk berinvestasi property di London, dan langsung menuju ke sana untuk melihat sendiri secara langsung property di sana.
Pertama-tama kami mampir ke Russell station, stasiun kereta bawah tanah terdekat , Di London orang menyebutnya Tube ( mungkin asalkata dari You Tube ya? ). Cukup bayar £ 4,9, kita sudah dapat karcis terusan yang bisa dipakai sepuasnya naik Tube atau naik bis kota dalam jangka waktu 1 hari. Kok naik Tube? Kenapa tidak keliling naik mobil? Kan si Ray bawa mobil? Ternyata di London lebih enak naik kendaraan umum daripada naik kendaraan pribadi. Selain karena pajak dan BBM nya mahal, karena mengikuti harga minyak dunia dan tidak ada subsidi, biaya parkirnya minta ampun. £ 2 / jam atau kira-kira Rp.32.000 / jam.
Itulah sebabnya toko-toko atau ruko di Inggris rata-rata tidak menyediakan tempat parkir. Bahkan hotel tempat kami menginap pun tidak menyediakannya. Ini menyebabkan susahnya mencari sarana parkir untuk kendaraan kita, dan Ini pulalah yang menyebabkan orang Inggris lebih suka naik angdon ( angkutan London ) yang memang bersih, lancar , nyaman dan tepat waktu dibandingkan membawa kendaraan pribadi.
Tapi kesulitan ini menimbulkan peluang baru dalam bisnis property untuk yang jeli. Yaitu bisnis penyewaan lahan parkir. Bayangkan jika anda mempunyai lahan nganggur di London seluas 1000M. 1 mobil akan memakan 4 m2, dikurangi sedikit bagian untuk pemasangan rambu dan mesin karcis seluas 50m, maka lahan tersebut bisa menampung 200 mobil. Jika 1 mobil menghasilkan £ 2 / jam. Maka 200 mobil akan menghasilkan £ 400 / jam. Jika tingkat occupancy nya 80%, maka setidaknya dalam sejam, lahan tersebut menghasilkan £320. Untuk parkir 24 jam penuh, tariff parkirnya adalah £ 20. Jika dalam 24 jam, tingkat rental yang mengambil paket 24 jam adalah 10%, maka kalkulasi pendapatan kotor lahan tersebut perharinya adalah ; ( 200 mobil x 10%)x £ 20 + ( 200 mobil x 90% ) x £ 320 x 24 jam. Sehingga lahan perkir seluas 1000 m2 tersebut akan menghasilkan pendapatan kotor perhari
Pertama-tama yang kami kunjungi adalah London Bridge. Kami mau menyamakan jam kami dengan Big Ben, jam dinding raksasa yang termasyhur yang menjadi Icon di Kota London, sambil minum kopi Starbucks di pinggir sungai Thames. Panasnya kopi mampu mengusir dinginnya London Bridge yang sore itu, suasananya ramai sekali dan banyak turis berkeliaran. Sayang tidak ada yang jual pisang atau bakwan goreng, pasti cocok nih sama cappuccino latte panas ini.
Setelah puas melihat Big Ben, perjalanan kami lanjutkan menyusuri taman Finsbury menuju Castle Windsor yang terkenal itu, sayang kami tidaak bertemu Pangeran Charles. Mungkin beliau sedang meeting? Padahal kami mau Tanya-tanya, siapa tahu istana Buckingham Palace dijual…
Sambil melihat-lihat bangunan bersejarah itu, mata kami selalu mengawasi bentuk-bentuk property yang bertebaran di seputar London. Amat beda dengan bentuk property yang biasa kita kenal, property di London masih bergaya Victorian dengan banyak ornament di bangunannya. Kami juga jarang melihat gedung pencakar langit di sini. Paling tinggi rata-rata gedung adalah sampai 10 lantai.

Tentunya tidak lupa kami juga mencari rumah kos yang mau dijual. Sayangnya sangat sulit mencari rumah kost karena di sana bentuk rumah sewaan adalah berbentu flat atau apartemen yang notabene memang diperuntukkan untuk tujua komersil. Beda denga di Indonesia dimana rumah kost bentuk nya sama dengan rumah tinggal biasa, sehingga sulit dilacak aparat pajak.
Rumah kost juga sulit ditemukan karena mudahnya dan cepatnya transportasi di London sehingga mahasiswa tidak harus tinggal dekat kampus. Rata-rata biaya sewa rumah flat adalah £ 320 – 550 per bulan. Coba hitung sendiri berapa? Kira-kira antara Rp. 4 – 7 juta / bulan. Wow….!!! Mantab !
Coba rumah kost kami yang di Lenteng Agung punya cashflow segitu per kamar. Kalau 24 kamar tentu mantab bukan.
Tapi jangan salah ! jangan melihat cashflownya saja. Perhatikan juga besarnya investasi yang diperlukan untuk mengakuisisi sebuah rumah . Di distrik yang ramai tapi sederhana misalnya, harga sebuah rumah flat 3 tingkat dengan 10 kamar , rata-rata berharga £ 800.000 – 940.000. Berarti ROI rumah tersebut pertahun hanya 4,2 – 5 % dari penyewaan kamar . berapa tahun baru lunas cicilannya ya?
Karena badan sudah lelah dan hari telah menjelang malam, kami tutup malam itu dengan makan malam di Rome’s House dengan sepotong Tenderloin steak seharga £8,9, tanpa nasi tentunya dan segelas Lambrusco buatan tahun 2006, cukup untuk mengeyangkan perut Indonesia kami sebelum ditutup dengan tidur di kasur yang hangat.
Keesokan paginya jam 08.12 WLB ( waktu London bagian barat ), kami bangun dan dilanjutkan dengan sarapan di restaurant hotel dengan menu Bakwurst atawa sosis Jerman yang asin rasanya, ditemani dengan mashes potato dan segelas cranberry juice cukup untuk bahan bakar pagi itu.
Rencananya kami akan distrik Belgravia, untuk melihat situasi perumahan kelas atas di sana. Kami ingin membandingkan besarnya imbal hasil yang di dapat jika berinvestasi di sana.
15 menit bermobil bersama Lambert, membuat kami terkagum-kagum dengan situasi London yang sejuk pagi itu. Sepeda berkeliaran dimana mana dengan bebasnya namun tertib dan teratur. Amat jarang terlihat sepeda motor di sana. Hingga akhirnya kami sampai di distrik Belgravia, sebuah perumahan “Pondok Indah” nya London.
Lambert mencari lokasi parkir untuk VW tuanya. Namun kelihatannya dimana-mana ada tanda dilarang parkir. Terpaksa Lambert memasukkan mobilnya ke parkir komersial di sana, lalu kami berjalan kaki menuju rumah-rumah incaran kami
Rata-rata rumah yang ada bentuk arsitekturnya sama yaitu bermodel Gothic dengan rata-rata ketinggian 3- 4 tingkat. Kami melihat beberapa papan petunjuk To Let ( di sewakan ), kami mencoba menelepon beberapa nomor yang tertera di sana, namun alamak…harga jual sebuah rumah di sana rata-rata £ 1juta- 2,5 juta, coba hitung berapa Milyard tuh? Sedangkan ROI dari sewa hanya 3 – 4,5 % per tahun . Kurang menarik menurut saya, sehingga setelah beberapa kali bertanya, rata-rata harga yang ditawarkan sama, maka kami putuskan untuk tidak membeli satu rumahpun di sana.
Dengan gontai, kami berjalan menju tempat parkir, dimana VW tua si Lambert telah menunggu. Giliran mau membayar parkir, ternyata dompetnya ketinggalan di rumah( entah benar atau tidak ) . Akhirnya karena tidak enak, kami putuskan untuk membayari saja. Paling-paling hanya £ 1 pikir kami. Lalu bergegas kami menuju Parking Machine dimana kami bisa bayar parkir seprti membeli minuman dalam vending machine. Tapi begitu struk parkir keluar…Alamaakk…tenyata untuk parkir 2,5 jam, kena £ 6 alias Rp. 90.000. Sebel…sebel..sebel…!!!
Ternyata lebih enak di negeri sendiri. Ke Jakarta aku, kan kembaliiiiii…..
( The end )
Comments (6)
Luar biasa pak james
Lha wong saya aja masih cari rumah kontrakan di Bekasi belum dapet-dapet juga.
salam sukses
Ahmad Surotong
...
Teruslah belajar melalui website
Teruslah belajar mengenai seluk beluk investasi property melalui website ini. saya akan terus membagikan ilmu-ilmu yang saya punya , agar anda semua juga belajar dan mau berinvestasi di Property.
salam Dahsyat


