Harta dan Asset yang sebenarnya sudah saya pahami sejak masih duduk di bangku kuliah memiliki arti berbeda, tapi saya hanya bisa membacanya dari pola laporan keuangan Bank/Perusahaan yang terbalik dengan sisi saya sendiri bila saya memiliki sebuah objek kekayaan. Saya dulu, sama sekali tidak berupaya mendalaminya untuk bisa merubah paradigma saya mengenai UANG.
Masalah keuangan seringkali timbul dari cara pandang kita yang salah pada pemahaman makna Harta dan Asset ini. Bukan menyalahkan pihak perbankan kalau akhirnya terbentuk di masyarakat arti yang sama antara harta dan asset.
Coba kita lihat ilustrasi ini yang akan menunjukkan pemahaman asset yang salah. Kalau kita datang ke Bank untuk meminjam modal, bank akan bertanya asset apa saja yang kita miliki untuk dijadikan jaminan hutang kita pada bank ? Kita akan menyebutnya misal : sebuah sertifikat rumah, BPKB 3 buah mobil, dls…. Bank mengatakan bahwa sertifikat rumah dan BPKB mobil adalah asset kita yang bisa dijadikan jaminan pada bank mereka.
Padahal…
Pada saat kita menggadaikan kekayaan kita tersebut, maka itu akan menjadi asset pihak Bank. Kenapa ? Karena dari jaminan tersebut nasabah penerima kredit bank akan membayar kembali uang yang dipinjamnya dari bank berikut bunganya dan bank akan mendapat passive income dari transaksi akad kredit dengan si nasabah Ini yang akan tertulis dalam laporan keuangan Bank.
Sebaliknya, bagi kita yang menggadaikan dan menerima sejumlah dana kredit, pembayaran yang kita lakukan ke bank bukan lagi pengeluaran tapi kewajiban tetap dalam jangka waktu tertentu harus diselesaikan. Artinya apa ? Peminjam dana perbankan akan menjadi sumber passive income bank. Artinya apa ? Kekayaan tergadai si nasabah menjadi asset bank. Nah, di sisi nasabah, apakah kekayaan itu adalah asset mereka? Masa sama aja judulnya dengan pola yang berbeda. Satunya menerima uang penuh dari yang dipinjamkan plus bunganya (Bank), satunya mengeluarkan uang untuk membayar pokok dan bunga (nasabah). Kalo dibilang sama ya aneh hehe…
OK, sekarang pahami dulu artinya Harta dan Asset ini deh supaya kita tidak salah menentukan kebijakan moneter kita nih ya….
Rumah atau mobil kita atau benda apapun yang kita miliki yang kita akui sebagai KEKAYAAN kita nih, bila benda tersebut dapat membiayai sendiri biaya yang timbul atau ada asset lain yang bisa menutupi biaya itu maka benda itu bisa dikatakan asset kita. Misalnya, rumah yang kita kontrakkan atau mobil yang disewakan. Hasilnya bila menutupi biaya-biaya yang timbul atas benda tersebut, ya bisa dikatakan benda itu asset.
Atau juga ROYALTY hasil terjualnya keping album seorang penyanyi dan dijadikan sumber pembiayaan harta seperti mobil/rumahnya, baru deh bisa dikatakan mobil dan rumah itu asset. Karena dibiayai dari pendapatan passive income. Royalty adalah asset yang membiayai benda tersebut maka benda itu juga jadi asset.
Pendapatan ROYALTY tidak sama dengan laba penjualan. Misalnya seorang penulis masih terlibat aktip dalam penjualan bukunya, si penulis masih mendapat income aktif. Penulis bukan mendapat royalty tapi laba penjualan. Sedang ROYALTY didapat dari kerjasama dengan penerbit yang sudah memiliki sistem dan jaringan pemasaran yang baik. Jadi istilah laba penjualan dan royalty adalah laba penjualan yang didapat dengan 2 cara berbeda. Dan kekayaan kita yang dibiayai oleh aktip income kita tidak bisa dikatakan ASSET dari sisi casflow pribadi, bukan casflow bank. Sadar gak sih bank bikin kacau paradigma asset dan harta bagi kita nih ?
Pada kenyataannya, kita mengandalkan aktip income kita untuk membiayai kekayaan yang kita miliki. Bukan salah, sah-sah saja kalau ada yang bilang “urusan guelah”, hanya saja kekayaan itu akan tetap menjadi HARTA bukan ASSET.
Paradigma yang salah tentang harta dan asset inilah yang pada akhirnya menjerumuskan kita pada kesalahan pengelolaan keuangan. Membeli banyak benda tapi akan menimbulkan banyak biaya karena benda tersebut hanya dinikmati, dipajang, dibuat gaya-gayaan tapi dibiayai dengan penghasilan kerja keras banting tulang kita di kantor atau hasil usaha yang masih kita bangun belum menghasilkan passive income. Bahkan ada yang gayanya selangit dengan benda-benda tersebut, kesulitan justru di dapurnya hehe….
Kalau orang yang telah memiliki pemahaman atas ASSET, membeli benda akan memikirkan dulu 2 hal ini :
1. Adakah asset (passive income, asset lain yg telah bekerja menghasilkan uang) yang bisa membiayai benda yang akan dibeli agar benda itu tetap berkatagori asset baginya ?
2. Akan diapakan benda itu nanti agar bisa menghasilkan uang guna membiayai biaya yang timbul karenanya dan benda itu akan menjadi asset bukan sekedar harta.
Selama benda yang kita beli tersebut masih merongrong kantong kita hasil gaji bulanan nih, ya itu masih menjadi HARTA dan artinya, ya BIAYA booo’…
Sekarang waktunya merenung, ternyata golongan harta saya lumayan banyak, jarang yang jadi asset nih hehe…Belum ada royalty yang membayar apa yang saya nikmati dari harta ini.
Konsep harta dan asset ini akan menjadi dasar untuk merencanakan, mengorganisir dan mengevaluasi keuangan pribadi kita. Konsep pelaporan akuntansi bank/perusahaan dan pribadi berbeda, bukan pada tekniknya tapi bagaimana angka-angka di dalamnya bercerita. Dalam ilmu akuntansi, kita menempatkan diri sebagai subjek akuntansi bukan objek akuntasi. Nah kalo kita si pemilik objeknya karena kita bicara keuangan pribadi, apakah bisa kita menempatkan diri dengan posisi yang sama ketika membuat laporan akuntansi ? Jelas ini akan membuat kacau keuangan di kemudian hari.
Comments (3)
Jadi Terbuka Mata & Pikiran Kita
...
Mudah2an kedepan bisa lebih bijak dalam pengeluaran uang......
melek financial yuk!!

